Senin, 12 Desember 2011

KATA BAKU & KATA TIDAK BAKU

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.



Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur. Berikut ini saya tampilkan 100 kata baku dan tidak baku yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari, yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Kata BAKU dan TIDAK BAKU
A
1. aktif = aktip
2. ambulans = ambulan
3. analisa = analisis
4. andal = handal
5. anggota = angauta
6. antre = antri
7. apotik = apotek
8. asas = azas
9. atlet = atlit
B
10. bus = bis
11. berpikir = berfikir
C
12. cabai = cabe, cabay
13. cenderamata = cinderamata
D
14. daftar = daptar
15. definisi = difinisi
16. depot = depo
17. detail = detil
18. diagnosis = diagnosa
19. diferensial = differensial
20. dipersilakan = dipersilahkan
21. disahkan = disyahkan
E
22. ekspor = eksport
23. ekstrem = ekstrim
24. ekuivalen = ekwivalen
25. embus = hembus
26. esai = esei
F
27. formal = formil
28. februari = pebruari
29. fiologi = phiologi
30. fisik = phisik
31. foto = photo
32. fondasi = pondasi
33. frekuensi = frekwensi
G
H

34. hafal = hapal
35. hakikat = hakekat
36. hierarki = hirarki
37. hipotesis = hipotesa
I
38. insaf = insyaf
39. ikhlas = ihlas
40. impor = import
41. istri = isteri
42. ijazah = ajasah, ijasah
43. izin = ijin
44. imbau = himbau
45. isap = hisap
J
46. jaman = zaman
47. jenazah = jenasah
48. justru = justeru
K
49. karier = karir
50. kaidah = kaedah
51. kategori = katagori
52. khotbah = khutbah
53. konferesi = konperensi
54. kongres = konggres
55. kompleks = komplek
56. kualifikasi = kwalifikasi
57. kualitas = kwalitas
58. kuantitatif = kwantitatif
59. koordinasi = koordinir
L
M

60. manajemen = menejemen
61. manajer = menejer
62. masalah = masaalah
63. masjid = mesjid
64. merek = merk
65. meterai = meterei
66. metode = metoda
67. miliar = milyar
68. misi = missi
69. mulia = mulya
70. mungkir = pungkir
71. museum = musium
N
72. narasumber = nara sumber
73. nasihat = nasehat
74. November = Nopember
O
75. objek = obyek
76. objektif = obyektif
P
77. paspor = pasport
78. peduli = perduli
79. praktik = praktek
80. provinsi = propinsi
81. putra = putera
82. profesor = proffesor
Q
R
83. ramadhan = ramadan
84. risiko = resiko
S
85. saraf = syaraf
86. sekadar = sekedar
87. silakan = silahkan
88. sistem = sistim
89. saksama = seksama
90. standardisasi= standarisasi
91. subjek = subyek
92. subjektif = subyektif
T
93. teknik = tehnik
94. teknologi = tehnologi
95. terampil = trampil
96. telantar = terlantar
U
97. ubah = rubah
98. utang = hutang
V
99. varietas = varitas
W
X
Y
Z
100. zaman = jaman


Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Pertama kali bahasa Indonesia memiliki ejaan adalah ejaan yang disusun Mr. Soewandi. Namun tahukah Anda, bahwa sebenarnya cikal bakal tata ejaan untuk bahasa yang kita pakai ini pertama kali disusun pada 1901 dalam Kitab Logat Melayu yang judul aslinya adalah Maleische Spraakkunst? Buku tata bahasa Melayu ini disusun oleh Charles Adrian van Ophuijsen dan dibantu oleh asistennya yang orang Melayu. Ketika itu, bahasa yang digunakan di Nusantara memang masih bahasa Melayu. Akan tetapi, setelah disepakatinya nama dan penggunaan bahasa Indonesia, rakyat Indonesia menyebut bahasa mereka sebagai bahasa Indonesia.


1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.
1. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
2. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
3. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamai’.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
1. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di padadirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis,dikarang.
3. Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.
4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.



Kamis, 27 Oktober 2011

GEJALA BAHASA

Gejala bahasa adalah bahasa Indonesia yang cara bacanya berbeda dengan ejaan huruf kata-kata tersebut seperti ditambahkan huruf atau dihilangkan.
Gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengankerancuan. Rancu artinya ‘kacau’, jadi kerancuan artinya ‘kekacauan’. Yang dirancukan ialah susunan, perserangkaian, penggabungan. Dua yang masing-masing berdiri sendiri disatukan dalam satu perserangkaian baru yang tidak berpasangan atau berpadanan.


Gejala penambahan dapat dibedakan menjadi 3 macam: penambahan fonem di depan kata disebutprotesis, penambahan di tengah kata di tengah kata disebutepntesis, dan penambahan di akhir kata.

1. Berdasarkan Penambahan
1. Protesis (penambahan di awal)
Contoh: mas – emas
lang – elang

2. Efentesis (penambahan di tengah)
Contoh: kapak – kampak
tubuh – tumbuh

3. Paragog (di akhir)
Contoh: hulubala – hulubalang

Pengulangan atau penghilangan fonem
a. Afanesis
Contoh: stani – tani
terlentang – telentang
b. Hapologi (berkurang dua fonem di tengah)
Contoh: baharu – baru
c. Sinkop
Contoh: sahaya – saya
bahasa – basa
citcit – cicit
d. Apakop
Contoh: tidak – tida
Import – impor
e. Assimilasi total
Contoh: ad+simiatio -assimilasi – asimilasi
Al+salam – assalam – asalam
f. Asimilasi parsial/sejalan
Contoh: in+perfect – imperfect – imperfek


2. Berdasarkan perubahan bentuk
(1) Adaptasi,
penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis

Contoh :
• vyaya menjadi biaya
• pajeg menjadi pajak
• voorloper menjadi pelopor
• fardhu menjadi perlu
• igreja menjadi gereja
• voorschot menjadi persekot
• coup d'etat menjadi kudeta
• postcard menjadi kartu pos
• certificate of deposit menjadi sertifikat deposito
• mass producIion menjadi produkmassa
(2) Analogi,
pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.

Contoh :
• Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata :
putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari
• Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata :
hutanisasi, Indonesianisasi
• Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata :
pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi
• Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata :
swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan
• Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata :
tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana.
(3) Anaptiksis (Suara Bakti),
penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan Disebut juga suara bakti.

Contoh:
• sloka menjadi seloka
• srigala menjadi serigala
• negri menjadi negeri
• ksatria menjadi kesatria
(4) Asimilasi,
proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.

Contoh:
• in-moral menjadi immoral
• in-perfect menjadi imperfek
• al-salam menjadi asalam
• ad-similatio menjadi asimilasi
• in-relevan menjadi irelevan
• ad-similatio menjadi asimilasi
(5) Disimilasi,
kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda.
Contoh :
saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur

(6) Diftongisasi,
perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan monoftongisasi.
Contoh :
• sentosa menjadi sentausa
• cuke menjadi cukai
• pande menjadi pandai
• gawe menjadi gawai
(7) Monoftongisasi,
perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi monoftong (vokal tunggal)
Contoh :
• autonomi menjadi otonomi
• autobtografi menjadi otobiografi
• satai menjadi sate
• gulai rnenjadi gule
(8) Sandi (Persandian),
perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata berkurang satu.
Contoh :
• keratuan menjadi keraton
• kedatuan menjadi kedaton
• sajian menjadi sajen
• durian menjadi duren
Perhatikan jumlah suku kata!

ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton
1 2 3 4 1 2 3

du - ri- an ~> du - ren
1 2 3 1 2


(9) Hiperkorek,
pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.
Contoh :
• Sabtu menjadi Saptu
• jadwal menjadi jadual
• manajemen menjadi menejemen
• asas menjadi azas
• surga menjadi sorga
• Teladan menjadi tauladan
• izin menjadi ijin
• Jumat menjadi Jum'at
• kualifikasi menjadi kwalifikasi
• frekuensi menjadi frekwensi
• kuantitas menjadi kwantitas
• November menjadi Nopember
• kuitansi menjadi kwitansi
• mengubah menjadi merubah
• februari menjadi Pebruari
• persen menjadi prosen
• pelaris menjadi penglaris
• system menjadi sistim
• teknik menjadi tehnik
• apotek menjadi apotik
• telepon menjadi telfon
• ijazah menjadi ijasah
• atlet menjadi atlit
• nasihat menjadi nasehat
• biaya menjadi beaya
• perusak menjadi pengrusak
• zaman menjadi jaman
• koordinasi menjadi kordinasi
(10) Kontaminasi,
disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.
Contoh :
• berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali
• saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian
• musnah dan punah menjadi musnah
(11) Metatesis,
pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.
Contoh :
• rontal menjadi lontar
• anteng menjadi tenang
• usap menjadi sapu
• palsu menjadi sulap
• keluk menjadi lekuk
(12) Protesis,
perubahan fonem di depan bentuk kata asal.
Contoh :
• lang menjadi elang
• mak menjadi emak
• mas menjadi emas
• undur menjadi mundur
• stri menjadi istri
• arta menjadi harta
• alangan menjadi halangan
• sa menjadi esa
• atus menjadi ratus
• eram menjadi peram
(13) Epentesis,
perubahan bentuk kata yang terjadi karma penyisipan fonem ke dalam kata asal
Contoh :
• baya menjadi bahaya
• bhayamkara menjadi bhayangkara
• gopala menjadi gembala
• jur menjadi jemur
• bahasa menjadi bahasa.
(14) Paragog,
perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal.
Contoh :
• mama, bapa menjadi mamak dan bapak
• pen menjadi pena
• datu menjadi datuk
• hulu bala menjadi hulubalang
• boek menjadi buku
• abad menjadi abadi
• pati menjadi patih
• bank menjadi bangku
• gaja menjadi gajah
• conto menjadi contoh.
(15) Aferesis,
penghilangan fonem di awal bentuk asal.
Contoh :
• adhyaksa menjadi jaksa
• empunya menjadi punya
• sampuh menjadi ampuh
• wujud menjadi ujud
• bapak menjadi pak
• ibu menjadi bu.
(16) Sinkop,
penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal.
Contoh :
• laghu menjadi lagu
• vidyadhari menjadi bidadari
• pelihara menjadi piara
• mangkin menjadi makin
• niyata menjadi nyata
• utpatti menjadi upeti.
(17) Apokop,
penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.
Contoh :
• sikut menjadi siku
• riang menjadi ria
• balik menjadi bali
• anugraha menjadi anugerah
• pelangit menjadi pelangi.
(18) Kontraksi,
gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru.
Contoh :
• tidak ada menjadi tiada
• kamu sekalian menjadi kalian
• kelam harian menjadi kemarin
• bagai itu menjadi begitu
• bagai ini menjadi begini.

Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.
(19) Nasalisasi,
atau penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/.
Contoh :
• me baca menjadi membaca
• pe duduk menjadi penduduk
• pe garis menjadi penggaris.
(20) Palatalisasi,
penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan.
Contoh :
pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan.
(21) Labialisasi,
penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.
Contoh :
pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan
kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut
timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,
(22) Onomatope,
proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi.
Contoh :
• hura-hura dari hore-hore.
• aum (suara harimau)
• meong (suara kucing)
• embik (suara kambing)
• desis (suara ular)
• desah (suara napas)
• ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)
(23) Haplologi,
proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
Contoh :
• samanantara menjadi sementara
• mahardhika menjadi merdeka
• budhidaya menjadi budaya


3. Penyerapan bahasa
Bahasa Indonesia yang merupakan hasil dari serapan bahasa asing atau bahasa daerah.

1. Kata serapan (Loan words): Hasil importasi morfosis tanpa substansi
morfemis namun tanpa atau dengan substansi fonemis.
Contoh: oksigen (inggris)
2. Campuran serapan (Loan blends): Gabungan hasil substansi dan
importansi morfonis sama dengan modelnya.
Contoh: non baku – non standard
3. Hybrids: Campuran struktur yang tidak sesuai dengan bentuk
modelnya.
Contoh: berambisi – ambitious (inggris)
4. Terjemahan serapan (Loan shift):
-Loan translation – umpan balik dan
-Semantic Loan – serapan – borrowing



sumber:
http://tiyapoenya.blogspot.com/2010/11/gejala-bahasa.html
http://kanaichishino.wordpress.com/2010/12/28/gejala-bahasa/



Senin, 17 Oktober 2011

Macam-macam majas

Majas adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek tertentu bagi pembaca atau pendengarnya. Majas terdiri atas: 1). Majas Perbandingan;
2). Majas pertentangan;
3). Majas sindiran;
4). Majas penegasan.


a. Majas perbandingan

Majas perbandingan terdiri atas tujuh bentuk berikut:

1) Asosiasi atau Perumpamaan

Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal

yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama.

Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama,

seperti, dan laksana.

Contoh :

a) Semangatnya keras bagaikan baja.

b) Mukanya pucat bagai mayat.

2) Metafora

Majas metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan

secara singkat dan padat.

Contoh :

a) Dia dianggap anak emas majikannya.

b) Perpustakaan adalah gudang ilmu.



3) Personifikasi

Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak

bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.

Contoh:

a) Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.

b) Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.

4) Alegori

Alegori adalah majas perbandingan yang bertautan satu dan yang

lainnya dalam kesatuan yang utuh. Alegori biasanya berbentuk

cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.

Contoh:

Cerita Kancil dengan Buaya dan Kancil dengan Burung Gagak.

5) Simbolik

Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan

mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.

Contoh:

a) Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian

b) Melati, lambang kesucian

c) Teratai, lambang pengabdian

6) Metonimia

Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari

sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.

Contoh:

a) Di kantongnya selalu terselib gudang garam. (maksudnya rokok

gudang garam)

b) Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (maksudnya kopi

kapal api)



7) Sinekdokhe

Sinekdokhe adalah majas yang menyebutkan bagian untuk

menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas

sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.

a) Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk

keseluruhan.

Contoh:

(a) Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.

(b) Per kepala mendapat Rp. 300.000.

b) Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk

sebagian.

Contoh:

(a) Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.

(b) Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.

b. Majas Sindiran

Majas sindiran terdiri atas ironi, sinisme, dan sarkasme.



1) Ironi

Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan

maksud menyindir.

Contoh:

a) Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.

b) Bagus sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.

2) Sinisme

Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.

Contoh :

a) Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan

oleh orang terpelajar sepertimu.

b) Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.



3) sarkasme

Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini

biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.

Contoh:

a) Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!

b) Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!



c. Majas Penegasan

Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.

1) Pleonasme

Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara

berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.

Contoh:

a) Semua siswa yang di atas agar segera turun ke bawah.

b) Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan pesawat

tempur.

2) Repetisi

Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.

Contoh:

a) Dialah yang kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang

kuharap.

b) Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola

kita, marilah kita sambut putra bangsa.

3) Paralelisme

Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam

puisi.

Contoh:

Cinta adalah pengertian

Cinta adalah kesetiaan

Cinta adalah rela berkorban



4) Tautologi

Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali

sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan.

Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.

Contoh:

a) Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar

pikiran saja.

b) Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan

bersaudara.

5) Klimaks

Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut

dan makin lama makin meningkat.

Contoh:

a) Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri

minyak.

b) Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun

tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.

6) Antiklimaks

Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut

yang makin lama menurun.

a) Kepala sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran

itu.

b) Di kota dan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan

HUT RI ke -62.

7) Retorik

Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak

memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran,

atau menggugah.

Contoh:

a) Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal

saja?



b) Apakah ini orang yang selama ini kamu bangga-banggakan ?

d. Majas Pertentangan

Majas pertentangan terdiri atas empat bentuk berikut.

1) Antitesis

Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang

berlawanan artinya.

Contoh:

a) Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.

b) Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Tuhan.

2) Paradoks

Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara

pernyataan dan fakta yang ada.

Contoh;

a) Aku merasa sendirian di tengah kota Jakarta yang ramai ini.

b) Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang sedang

berlangsung ini.

3) Hiperbola

Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan

dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam

atau meminta perhatian.

Contoh:

a) Suaranya menggelegar membelah angkasa.

b) Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.

4) Litotes

Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara

yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau

menguranginya. Tujuannya untuk merendahkan diri.

Contoh:

a) Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.

b) Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti saya

ini?




Sabtu, 08 Oktober 2011

Mengenali Tipe Diri Pribadi dan Orang Lain

Disini saya menekankan terdapat 4 tipe orang. Kadang ada yang menyebutkan ada 7 tipe. Tetapi secara umum terdapat 4 tipe, yaitu Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis. Mengetahui tipe diri sendiri dan orang lain memberikan manfaat tersendiri bagi kita. Kita bisa memahami diri sendiri dan orang lain. Selain itu kita bisa mengambil langkah bagaimana cara kita menghadapi orang tipe tertentu, sehingga orang tersebut merasa nyaman dengan diri kita.




Manfaat Mengenali Tipe Diri Pribadi dan Orang Lain
Bagi Diri Sendiri
• kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan kita.
• dengan mengetahui kelemahan diri sendiri, kita bisa intropeksi diri, melakukan perubahan untuk jadi semakin lebih baik.
• dan tentunya mengetahui/memahami pribadi kita sendiri.
Bagi Orang Lain
• kita dapat mengetahui/memahami pribadi orang lain.
• dengan mengetahui pribadi orang lain, diharapkan kita tahu cara dalam menghadapi orang tersebut, misalnya: dalam hal bekerjasama dan berteman.
• dan tentunya dalam mencari pasangan hidup, memahami pribadi orang lain saat penting karena agar menjadikan pasangan tersebut saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing, agar suatu saat nanti tidak terjadi perceraian yang disebabkan berbeda pendapat saja seperti yang terjadi kebanyakan artis sekarang ini.
Karakteristik Tipe Orang
Dalam pembahasan ini, secara garis besar dan secara umum tipe diri orang dibagi menjadi empat, yaitu Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis. Meskipun begitu ada juga yang menyebutkan tipe diri orang ada yang dibagi menjadi 7 tipe.
Berikut keempat macam tipe diri orang beserta kelamahan dan kelebihannya. Dalam pembahasan ini mungkin hanya diberikan sebagian kecil ciri-ciri dari masing-masing tipe (yang signifikan).






Kelebihan Tipe Sanguinis
• Emosi
- kepribadian menarik
- pembicara yang baik
- suka berbicara, biasanya memukau pendengar
- menghidupkan suasana, rasa humor tinggi
- emosional dan demostratif
- antusias, ekspresif, penuh semangat, periang
• Dalam Pekerjaan
- suka membantu tugas orang lain
- tampak hebat, kreatif dan inovatif
- menarik perhatian orang lain untuk mengikutinya
• Sebagai Teman
- supel, mudah berteman (gaul), menyenagkan
- mudah minta maaf
- suka dipuji
Kesimpulan Tipe Sanguinis
Tipe orang Sanguinis merupakan pribadi yang menyenangkan jadi tidak salah jika banyak orang yang menyukainya, ingin merasa dirinya dikenal banyak orang, ide-idenya gila tetapi kreatif dan inovatif seperti ide-ide orang sukses, ingin dirinya menjadi trend setter agar orang lain mengikuti jejaknya.
Kelemahan Tipe Sanguinis
• bicara terus menerus (cerewet)
• suka memonopoli
• penyela (biasanya menyela pembicaraan orang lain)
• menyimpang terlalu jauh dari kebenaran (suka membual)


2. Melankolis (Pemikir –> Sempurna)

Kelebihan Tipe Melankolis
• Emosi
- perasaannya halus, sensitif, dalam
- analitis, serius, tekun, dan idealis
- kreatif, berbakat, rasa seninya tinggi
- menyukai keindahan
• Dalam Pekerjaan
- perfeksionis, standart tinggi, orientasi jadwal
- tertib dan terorganisir
- senang: grafik, bagan, gambar, tabel (visual)
• Sebagai Teman
- hati-hati dalam berteman
- setia, mudah terharu, mudah kasihan
- menghindari perhatian, tidak suka menonjolkan diri
- pendengar yang baik
Kesimpulan Tipe Melankolis
Tipe orang Melankolis merupakan pribadi yang cerdas karena dia selalu memikirkan langkah apa yang akan dambil dalam memecahkan masalah. Akan tetapi pribadi Melankolis ini terlalu lama dalam mengambil keputusan karena dia selalu memikirkannya matang-matang agar dia mendapatkan segala sesuatunya itu sempurna. Perasaannya sensitif, jika dia disakiti dia tidak akan mudah melupakannya. Akan tetapi tipe ini merupakan seorang teman yang setia, tidak suka menghianati teman. Dan juga dia ini ibarat orang yang suka bekerja di balik layar, tidak terlalu ingin dirinya menjadi pusat perhatian.
Kelemahan Tipe Melankolis
• menekan perasaan
• jika punya masalah yang berat, dia langsung down dan sering terlihat murung
• terlalu pendiam
• mudah depresi


3. Koleris (Kuat –> Pelaku)

• Emosi
- berbakat pemimpin, dinamis dan aktif
- suka perubahan, selalu memperbaiki kesalahan (introspeksi diri)
- logis, tegas dan berkemauan kuat
- bebas mandiri, tidak mudah menyerah
- percaya diri, mampu dalam banyak hal
• Dalam Pekerjaan
- bergerak cepat dalam bertindak, berkembang, bersaing
- orientasi pada target, pandai memecahkan masalah
- mampu memberikan semangat kepada orang lain
• Sebagai Teman
- tidak terlalu tergantung teman
- mau bekerja dan memimpin
- mau ambil bagian dalam keadaan darurat
Kesimpulan Tipe Koleris
Tipe orang Koleris adalah tipe orang yang berjiwa pemimpin, menyadari kesalahannya dan kemudian memperbaiki kesalahannya, punya kemauan kuat untuk meraih sesuatu yang diinginkan, biasanya aktif dalam suatu kegiatan, orang sibuk, menargetkan apa yang akan dicapai.
Kelemahan Tipe Koleris
• sok berkuasa
• keinginannya selalu ingin dituruti
• egois
• suka mengatur


4. Phlegmatis (Damai –> Pengamat)

• Emosi
- rendah hati, tenang dan sabar
- simpatik, baik hati, pendiam
- mampu mengendalikan/menyembunyikan emosi
- mudah bersyukur, mudah bahagia
• Dalam Pekerjaan
- mudah kompromi, mudah sepakat
- menjadi penengah ketika ada masalah
- menghindari konflik
- kuat dalam tekanan
• Sebagai teman
- berhati-hati, tidak suka menyinggung orang lain
- pendengar yang baik, punya banyak teman
- mudah bergaul, menyenangkan dan rileks
Kesimpulan Tipe Phlegmatis
Tipe orang Phlegmatis merupakan pribadi yang sabar dan senang dalam menghadapi masalah, emosinya tidak meluap-luap ketika dia bahagia atau sedih, pendiam, mampu bekerja dalam tekanan, tidak suka pertengkaran, hati-hati dalam berucap kepada orang lain, menyenangkan.
Kelemahan Tipe Phlegmatis
• masa bodoh dengan orang lain
• tidak punya kepastian/pendirian (plin-plan)
• cuek
• tidak peduli apa yang sedang dilakukannya
Termasuk Tipe Apakah Saya?
Secara pribadi, saya termasuk dominan tipe orang Melankolis. Karena saya orangnya selalu menginginkan kesempurnaan, dalam hal menyelesaikan pekerjaan dan juga mencari jodoh tentunya. Yang jadi kebiasaan buruk saya yaitu ketika mendapat masalah, saya sering tidak mood, mudah depresi, pendiam banget, pengennya selalu sendiri. Itulah saya sebagai seorang tipe Melankolis.
Cara Menghadapi Masing-Masing Tipe
Ada keuntungan tersendiri dengan kita mengetahui cara menghadapi orang dengan tipe yang berbeda-beda. Dalam berteman dan bekerjasama, kita akan banyak mendapatkan keuntungan dengan kita memahami seseorang.
Menghadapi Tipe Sanguinis
• kenali kesulitannya dalam menyeleseikan tugas
• sadarilah bahwa mereka berbicara tanpa berpikir lebih dahulu dan terkadang menyinggung persaaan orang lain, tetapi sebenarnya dia hanya bercanda dengan ucapannya
• sadari bahwa mereka menyukai variasi dan fleksibilitas (apa ya maksudnya ini??? hehehe)
• bantu mereka agar tidak menerima lebih dari yang mereka bisa lakukan
• pujilah mereka untuk segala sesuatu yang mereka capai
• ingatlah bahwa mereka mudah emosi
• berilah hadiah untuk event-event tertentu (bukan berarti mereka gampang disuap ya!!!!), misalnya sedang berulang tahun atau mendapatkan prestasi
Menghadapi Tipe Melankolis
• ketahuilah bahwa mereka sangat sensitif perasaannya dan mudah sakit hati (saya banget neh)
• motivasi mereka saat mereka kurang optimis (siapa ya yang bisa memotivasi saya???)
• mereka perlu bantuan agar tidak mudah tertekan
• pujilah dengan tulus dan penuh kasih sayamg
• beri kesempatan mereka jika memang sedang ingin sendiri saja
• berusahalah untuk selalu menepati janji sesuai jadwal dengannya (sebab tipe orang Melankolis selalu ingin tepat waktu)
Menghadapi Tipe Koleris
• akui bahwa mereka memang berbakat memimpin
• bersikeraslah melakukan komunikasi dua arah
• sadari bahwa mereka tidak bermaksud menyakiti
• sadari bahwa mereka tidak berbelas kasihan
• berusahalah membagi tanggung jawab
• mereka biasanya selalu benar
Menghadapi Tipe Phlegmatis
• sadarilah bahwa mereka memerlukan motivasi langsung
• bantulah mereka menetapkan tujuan
• jangan mengharapkan antusiasme
• sadari bahwa mereka menunda-nunda pekerjaan karena itu bentuk kontrol mereka
• paksalah mereka untuk membuat keputusan
• motivasilah mereka untuk menerima tanggung jawab
Sebenarnya masih banyak point-point kelebihan, kekurangan, dan cara menghadapi dari masing-masing tipe. Akan tetapi, sebagian besar (dan biasanya) seperti itu. Mungkin teman-teman bisa memberikan tambahan melalui comment.
Dulu sewaktu saya mengikuti mata kuliah Kecakapan AntarPersonal, untuk menentukan tipe diri kita, kita (mahasiswa) disodori sebuah angket yang berisi pilihan multiple choice tentang suatu kasus dan dari sejumlah kasus tersebut kita condong melakukan hal apa dengan memilih pilihan yang ada. Setelah itu pilihan (jawaban) kita dijumlahkan dan pada akhirnya diketahuilah kita termasuk tipe orang yang mana. Akurat tidaknya saya kurang tahu, yang pasti banyak dari teman-teman saya yang hasilnya memang merasa begitu kenyataannya. Sebenarnya saya juga ingin membagikan angket studi kasus tersebut, akan tetapi pada waktu itu angket tersebut tidak dibagikan (dikumpulkan kembali). Pada waktu itu saya juga tidak berniatan untuk mengcopy. Jadi saat ini saya tidak mempunyai angket tersebut.
Dengan berdasarkan point-point pembahasan diatas, cobalah Anda menilai diri Anda sendiri, termasuk tipe orang yang manakah Anda? Lalu cobalah menilai orang lain termasuk tipe orang yang manakah dia? Bisa jadi Anda termasuk ke dalam dua jenis tipe orang, akan tetapi cobalah Anda telaah, manakah dari salah satu keempat tipe orang yang benar-benar mewakili/condong dengan pribadi Anda.





UNSUR-UNSUR INTRINSIK DRAMA

Unsur-unsur intrinsik drama adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman (1996 : 23) ada 7 yakni : 1. Alur. 2. Amanat, 3. Bahasa, 4. Dialog, 5. Latar, 6. Petunjuk teknis, 7. Tema, 8. tokoh.




Alur menurut Akhmah Saliman (1996 : 24), alur adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : 1. Perkenalan, 2. Awal masalah, 3. Menuju klimaks, 4. Klimaks, 5. Penyelesaian.
Amanat
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 67) amant adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya.
Harimurti Kridalaksana (183) berpendapat amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya.
Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut.
Bahasa
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68), bahasa yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style).
Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budyaa, dan pendidikan.
Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku.
Dialog
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.
Latar
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.
Petunjuk Teknis
Petunjuk teknis adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya.
Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan.
Tema menurut WJS Poerwadarminta (185 : 1040) tema adalah pokok pikiran. Mursal Esten (1990) berpendapat tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan.
Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam dramanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang drama.
Tokoh
Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32).
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 25 : 27) berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat, 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik, 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, masih menurut Akhmad Saliman (1996 : 27) berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni : 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita, 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita.
Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama.
Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini. 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik.
Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra (Saliman, 1996 : 33).
Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama.
Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi . 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.




Kamis, 06 Oktober 2011

PEMAKAIAN KALIMAT

A. Pengertian Kalimat
Orang berbahasa tidak menggunakan kata-kata secara lepas, tetapi dengan merangkaikannya menjadi bentukuntaian kata yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Untaian kata yang mengungkapkan pikiran secara utuh itu disebut kalimat. Dalam sebuah karangan tertulis atau surat, kalimat itu merupakan bagian

terkecil sebagai unsur pembentuknya. Paling tidak, kalimat itu merupakan titik tolah ataubagian awal

sebuah karangan. Agar dapat dipahami lebih jelas mengenai kalimat itu, perhatikanlah contoh petikan karangan beriktu ini.

Ujian telah lama berakhir. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali. Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya.


Pada contoh di atas, kita dapat menemukan lima buahkalimat yang membangun bagian karangan itu, yaitu
(1) Ujian telah lama berakhir.
(2) Bahkan, sudah diumumkan hasilnya.
(3) Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali.
(4) Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga.
(5) Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya

Kalimat sebagai unsur dasar pembentuk karangan dalam wujud tulisan mempunyai ciri-ciri berikut :
a. Kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau mungkin juga dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!).
b. Di tengahnya dipakai spasi san tand baca seperti koma (,), titik dua (:), titik koma (;), tanda hubung (-).

Contoh kalimat (1) sampai dengan (5) adalah kalimat yang utuh. Untuk mengetahui keutuhan sebuah kalimat, kita dapat mengamati contoh kalimat (1) Ujian telah lama berakhir. Misalnya. Kata Ujian dan berakhir dalam kalimat itu merupakan kata-kata yang diperlukan. Jika salah satu di antaranya kita hilangkan sehingga kalimat itu menjadi (a) Ujian telah lama atau (b) telah lama berakhir, pernyataan (a) dan (b) merupakan bentuk pengungkapan pikiran yang tidak utuh lagi. Dengan perkataan lain, bentuk pengungkapan pikiran itu merupakan kalimat yang tidak benar.
Kebenaran sebuah kalimat, selain ditentukan oleh keutuhan unsur-unsur pikiran, ditentukan juga oleh
a. Kelugasan penyusunannya (tidak rancu);
b. Urutan kata-katanya;
c. Ketepatan pemakaian kata-kata penghubungnya atau perangkainya;
d. Kecermatan memilih kata-katanya;
e. Kebenaran menggunakan bentuk kata-katanya.

Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahan kalimat yang disebabkan ileh (1) penulisan kalimat yang tidak utuh, (2) pemakaian bentuk kata yang rancu, (3) pemakaian keterangan yang tidak lengkap, (4) urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia, (5) pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan (6) pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.

B. Penulisan Kalimat yang Tidak Utuh
Yang tergolong ke dalam jenis kesalahan seperti ini adalah kalimat yang menghilangkan salah satu atau beberapa bagian kalimat yang kehadirannya wajib atau menentukan kelengkapan kalimat itu.
Contoh :
(1) Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2) Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap.
(3) Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.

Ketidakbenaran kalimat (1) adalah bahwa kalimat itu tidak menampilkan apa atau siapa yang menghasilakan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama. Bagian itu dalam kalimat (1) dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.
Dalam kalimat (2) kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan perbuatan apa atau dalam keadaan apa yang dilakukan atau dialami oleh kegagalan proyek itu sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi. Lebih-lebih lagi, dalam kalimat (3) ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan siapa yang berbuat dan jenis perbuatan apa yang dilakukannya yang diterangkan oleh tenun ikat yang khas Timor Timur itu.
Jika kalimat (1), (2), dan (3) kita betulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimat-kalimat itu kita ubah menjadi
(1) Dalam musyawarah itu mereka menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2) Kegagalan proyek itu terjadi karena perancangan yang tidak mantap.
(3) Tenun ikat yang dipakai oleh Raja Los Palos tergolong ke dalam tenun ikat yang khas, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.

Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambahkan bagian lain ke dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk menghasilkan menjadi dihasilkan sehingga kalimat itu menjadi

Dalam musyawarah itu dihasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
Atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata dalam sehingga kalimat menjadi
Musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.

C. Pemakaian Bentuk Kata yang Rancu
Kesalahan kalimat seperti itu dimungkinkan karena penulis (pemakai bahasa) mengacaukan dua macam pengungkapan kalimat atau lebih. Misalnya :
(4) Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Yang dirancukan dalam kalimat (4) itu adalah
Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.
Dan
Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Jadi, kerancuan yang tampak pada kalimat (a) itu adalah pemakaian sekaligus kata meskipun dan tetapi dalam sebuat kalimat.

D. Pemakaian Keterangan yang Tidak Lengkap
Jenis kesalahan seperti ini pada umumnya terdapat dalam penulisan surat resmi (surat dinas dan surat niaga). Misalnya :

Memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami.
Kalimat di atas terasa janggal jika urutan bagian-bagiannya diubah menjadi
(5a) Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami memenuhi permintaan Saudara.

Kalimat (5a) itu akan terasa lebih lancar jika bagian memenuhi permintaan Saudara itu didahului dengan kata untuk sehingga kalimat itu menjadi

(5b) Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami untuk memenuhi permintaan Saudara.
Apabila dikembalikan posisinya ke posisi semula, kalimat itu menjadi
(5c) ) Untuk memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami

E. Urutan Kata yang Menyalahi Aturan Berbahasa Indonesia
Kesalahan penulisan kalimat juga terjadi karena urutan katanya tidak sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia. Kesalahan seperti itu dapat dilihat pada contoh berikut.

(6) Saya telah umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun negara kita yang ke-45.
Kesalahan urutan kata pada kalimat (6) tampak pada bagian saya telah umumkan pada hari ini, dan ulang tahun negara kita yang ke-45. Menurut kaidah penulisan kalimat bahasa Indonesia, urutan kata pada bagian-bagian itu hendaklah diubah menjadi telah saya umumkan, pada hari ini, dan ulang tahun ke-45 negara kita.
Dengan perubahan urutan kata seperti yang telah dilakukan itu, kalimat berikut ini menjadi kalimat yang benar.

(6a) Telah saya umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun ke-45 negara kita.

F. Pemakaian Kata atau Ungkapan Penghubung yang Tidak Tepat
Yang dimaksud dengan kata atau ungkapan penghubung dalam pembicaraan ini ialalah semua kata atau ungkapan yang dipergunakan oleh penulis (pemakai bahasa) untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung antarbagian kalimat yang lazim dipakai dalam penulisan kalimat antara lain kata dan, atau, tetapi, ketika, jika, asalkan, agar, supaya, meskipun, sebagai, sebab, karena, dan bahwa.
Pemakaian kata penghubung antarbagian kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
(1) Bu Siska adalah seorang guru teladan dan anak-anaknya pun pandai-pandai pula.
(2) Fernadez ingin menjadi juara umum di sekolahnya tetapi ia hanya berhasil menjadi juara tiga.
(3) Pa Mario tidak masuk kantor hari ini karena sakit.
(4) Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya berusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(5) Gubernur mengumumkan bahwa kota Mataram, tahun depan akan menjadi kota wisata.
(6) Pembangunan di bidang pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Timur terus ditingkatkan agar kehadiran para wisatawan asing terus meningkat.
(7) Di kampung kami dipasang dua puluh sumur pompa ketika musim kemarau sangat panjang.
Menurut kenyataannya, dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari sering ditemukan beberapa kesalahan, yaitu makin kaburnya batas pemakaian penghubung antarbagian kalimat dan penghubung antarkalimat.
Contoh :
(a) Pak Carlos menghadapi persolalan yang berat di kantornya. Tapi ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.
(b) Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya. Yaitu tenun ikat khas Timor Timur yang dahulu hanya dipakai raja-raja.
Kata tapi dan yaitu yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung antarbagian kalimat, dipakai juga sebagai penghubung antarkalimat. Bandingkan dengan kalimat di bawah ini.
(c) Pak Carlos menghadapi persoalan yang berat di kantornya, tetapi ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.
(d) Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur yang dahulu dipakai oleh raja-raja.
Ungkapan penghubung yang berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak banyak jumlahnya.
Yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia antara lain (oleh) karena itu, namun, kemudian, setelah itu, bahkan, selain itu, sementara itu, walaupun demikian, sehubungan dengan itu.

Contoh pemakaiannya dapat dilihat seperti di bawah ini.
(e) Pembangunan di bidang pariwisata terus ditngkatkan. Oleh karena itu, kehadiran wisatawan asing di Indonesia setiap tahun terus bertambah.
(f) Musim kemarau tahun ini di desa kami sangat lama. Walaupun demikian, berkat pemasangan sumur pompa bahasa kekeringan dapat diatasi.
Kesalahan pemakaian ungkapan penghubung antarkalimat sama halnya dengan kesalahan pemakaian kata penghubung antar bagian kalimat yaitu pemakaian kedua jenis penghubung itu dikaburkan seperti contoh berikut ini.
(g) Saya tidak sependapat dengan mereka, namun demikian saya tidak akan menentangnya.
(h) Fernadez anak yang tergolong pandai di sekolahnya bahkan ia pernah menjadi juara ketiga.

Jika ungkapan penghubung antarkalimat digunakan dengan benar, kalimat itu seharusnya ditulis sebagai berikut.
(g1) Saya tidak sependapat dengan mereka. Namun, saya tidak akan menentangnya.
(g2) Fernandez anak yang tergolong pandai di sekolahnya. Bahkan, ia pernah menjadi juara ketiga.

KALIMAT DAN PENGEMBANGANNYA
A. Paragraf
Paragraf/alinea merupakan bagian dari wacana yang merupakan satu kesatuan kalimat-kalimatpenjelas. Paragraf yang baik harus memenuhi kriteria yaitu memiliki satu ide pokok atau satu pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas antarkalimat saling berkaitan/berkoherensi sehingga merupakan satu kesatuan. Kalimat yang memuat ide pokok/pikiran utama disebut kalimat utama. Kalimat yang mengandung pikiran penjelas disebut kalimat penjelas. Paragraf yang kalimat utamanya terletak pada awal paragraf disebut paragraf deduktif. Paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf disebut paragraf induktif.

B. Jenis karangan
Jenis karangan ada lima, yaitu:
1. Eksposisi adalah karangan yang berisi uraian/penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi. Tidak jarang eksposisi berisi tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian disebut paparan proses.
2. Argumentasi adalah karangan yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta konsep sebagai alasan/bukti.
3. Deskripsi adalah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.
4. Persuasi adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi emosi pembaca untuk berbuat sesuatu.
5. Narasi adalah karangan yang berisi rangkaian peristiwa yang susul menyusul sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.

C. Ide pokok/pikiran utama/gagasan utama
Ide pokok/pikiran utama/gagasan utama adalah gagasan yang menjiwai paragraf. Cara menentukan gagasan utama dalam paragraf adalah: merupakan pernyataan yang paling umum, paling penting atau penyataan yang merupakan kesimpulan, dan terdapat bagianbagian yang diulang pada kalimat-kalimat yang lain.

D. Makna Istilah/kata/gabungan kata
Istilah ialah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Istilah ada yang berupa kata, ada pula yang berupa idiom atau ungkapan. Idiom adalah gabungan kata yang membentuk kesatuan arti baru sehingga sering tidak dapat ditelusuri artinya berdasarkan arti unsur pembentuknya.

E. Pendapat/komentar/tanggapan
Dalam mengemukakan pendapat/komentar/memberi tanggapan harus memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Didasari pengetahuan yang cukup mengenai masalah yang dibicarakan.
2. Sopan dan tidak emosional.
3. Pendapat harus logis, sistematis, berdasarkan fakta.
4. Kalau komentar bersifat positif hendaknya mengungkap pada/dari aspek makna dukungan, persetujuan atau optimisme diberikan.
5. Kalau komentar bersifat negatif (berisi penolakan) gunakan kalimat yang sifatnya tidak langsung, berilah alasan yang logis dan kuat serta solusinya.

F. Menarik Kesimpulan
Dalam menyusun pendapat untuk menarik kesimpulan yang benar, kita harus menggunakan pola berpikir/penalaran yang benar pula. Pola penalaran dibagi menjadi dua, yaitu deduktif dan induktif.
1. Penalaran deduktif yaitu; dimulai dengan mengemukakan pernyataan yang umum (premis umum/mayor) diikuti pernyataan khusus (premis khusus/minor) menarik kesimpulan terhadap hal yang khusus. Penalaran demikian disebut juga silogisme.
2. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan peristiwa-peristiwa khusus menuju kepada kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus tersebut. Macam-macam penalaran induktif:
 Generalisasi: perumusan kesimpulan umum berdasarkan data/kejadian-kejadian yang bersifat khusus.
 Sebab-akibat: dimulai dengan fakta-fakta yang menjadi sebab menuju kesimpulan yang menjadi akibat.
 Akibat-sebab: dimulai pada fakta-fakta yang menjadi akibat lalu kita analisis untuk mencari sebabnya.
 Analogi adalah pengambilan kesimpulan dengan asumsi bahwa jika dua atau beberapa hal memiliki banyak kesamaan, maka aspek lain pun memiliki kesamaan.

LAPORAN DAN KARYA ILMIAH
A. Laporan
Laporan merupakan salah satu alat untuk menyampaikan informasi baik formal maupun nonformal. Laporan juga berfungsi sebagai:
- pertanggungjawaban bagi orang yang diberi tugas
- landasan pimpinan dalam mengambil kebijakan/keputusan
- alat untuk melakukan pengawasan
- dokumen sebagai bahan studi dan pengalaman bagi orang lain.
Macam-macam laporan menurut bentuknya:
- laporan berbentuk formulir
- laporan berbentuk surat
- laporan berbentuk memorandum (memo)
- laporan berbentuk naskah
- laporan berbentuk buku

B. Proposal
Proposal adalah suatu usulan kegiatan perlu dukungan atau persetujuan pihak lain. Hal-hal yang perlu dimuat dalam proposal antara lain:
1. nama proposal
2. pendahuluan
3. tujuan
4. bentuk/jenis kegiatan
5. pelaksanaan
6. panitia pelaksana (terlampir)
7. biaya/dana (rincian terlampir)
8. harapan
9. lampiran
Panduan Materi Bahasa dan Sastra Indonesia

C. Karya Tulis
Karya tulis ilmiah ialah tulisan atau karangan yang penyusunannya didasarkan pada kajian ilmu pengetahuan. Kajian tersebut biasanya dilakukan melalui kegiatan penelitian di laboratorium, di lapangan, atau penelitian kepustakaan.
Ciri-ciri karya tulis ilmiah:
1. menarik (masalah yang dibahas harus menarik)
2. objektif (harus sesuai dengan fakta yang ada)
3. sistematis (mudah dipahami/dimengerti pembaca)
4. argumentatif (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya)
5. lugas (bahasa yang digunakan efektif dan logis)

Karya tulis ilmiah terbagi atas tiga bagian, yaitu…
1. Bagian pendahuluan, berisi tentang halaman judul; halaman kata pengantar, halaman daftar isi; halaman daftar tabel; halaman daftar grafik; diagram/gambar.
2. Bagian pokok/inti, bagian ini berisi tentang bab pendahuluan; bab-bab pembahasan masalah; bab penutup.
3. agian akhir/penutup adalah bagian yang memuat bahan-bahan yang tidak bersifat wajib. Dalam bagian ini tercantum daftar pustaka; lampiran; indeks; daftar istilah; riwayat penulis.

D. Kutipan
Kutipan adalah pencatatan sumber-sumber tertulis untuk menyusun sebuah karya tulis. Pencatatan sumber-sumber tertulis itu dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu kutipan, ringkasan, dan parafrase.
Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan menjadi kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung yang banyak barisnya tidak lebih dari empat baris ketikan dimasukkan ke dalam teks karya tulis dengan cara sebagai berikut:
1. kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks
2. jarak baris dengan baris sama dengan teks, yaitu dua spasi
3. kutipan itu diapit dengan tanda kutip
4. sesudah kutipan selesai, berilah nomor urut penunjuk catatan kaki yang diketika setengah spasi ke atas
Sedangkan kutipan tidak langsung berisi intisari pendapat yang dikemukakan kembali dengan kata-kata sendiri. Oleh karena itu kutipan tidak langsung tidak boleh menggunakan tanda kutip.
Catatan kaki/footnote merupakan penjelasan sumber semua kutipan, baik kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung diletakkan di kaki. Fungsi catatan kaki/footnote adalah sebagai berikut:
1. pembuktian atas sumber informasi
2. penghargaan kepada pengarang yang pendapatnya dikutip
3. pemberian keterangan tambahan untuk memperjelas pembahasan
4. penunjukan bagian lain dlam naskah
Catatan kaki berisi tentang nama pengarang, judul buku, (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.

E. Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar sumber tertulis yang dijadikan acuan dalam pembahasan karya tulis.
Cara menulis daftar pustaka yaitu…
1. Nama pengarang ditulis dengan mendahulukan nama akhir. Nama akhir (keluarga) ditulis lebih dahulu dipisahkan dengan tanda koma dari nama pertama yang ditulis kemudian.
2. Tahun penerbitan (.)
3. Judul buku (.)
4. Kota penerbit (:)
5. Nama penerbit (.)